Wednesday, June 25, 2008

kabupaten baru, masalah baru?

akhirnya, kabupaten natuna yang baru dibentuk 9 tahun lalu pun mekar sudah. saudara2 dari tiga pulau besar di barat (siantan, jemaja dan palmatak) memisahkan diri bernaung menjadi kabupaten kepulauan anambas. selamat diucapkan.

ada tiga perkara yang saya rasa kudu alias urgent alias mendesak untuk dibenahi, agar kabupaten baru ini segera bisa berjalan.

pertama, masalah ibukota. saya baca di koran, letak ibukota disepakati di tarempa. what? gak salah nih... sering kalau saya naik kapal dan singgah di tarempa, saya turun dari kapal dan berjalan2 sebentar di tarempa: kota pelabuhan yang ramai dan maju. tapi sempit. gunung dibelakang, laut di depan. jalan-jalannya tidak bisa dilalui mobil. tentu saja untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten, tarempa lama tidaklah memadai. mudah2an memang ada tanah datar yang cukup luas di pulau itu, yang bisa dibangun sebuah kota baru. dan tentu saja masalah keberatan dari masyarakat di pulau besar lainnya (jemaja dan palmatak) harus benar2 diperhatikan. otherwise, konflik ibukota akan berkepanjangan seperti yang terjadi di daik lingga.

kedua, masalah siapa yang mau ngurusi kabupaten baru ini. pekerjaan yang sangat2 berat dan harus dilakoni dengan sungguh2. karena membangun sebuah kabupaten baru, ibarat membangun dari nol. untuk kepala pemerintahan daerah, tentu saja banyak yang bersedia. tapi bagaimana dengan birokrat2 lapis tengah dan lapis bawahnya. kalaupun ada yang mau, butuh waktu untuk mereka menjadi handal, dan mudah2an tidak menjadi korup.

ketiga, masalah hubungan dengan kabupaten lama (natuna). alasan utama yang formal untuk memisahkan diri dari kabupaten induk adalah karena rentang jarak yang sangat jauh. alasan lain yang sangat penting tapi jarang diomongkan adalah karena ladang gas bumi yang sudah beroperasi letaknya di anambas (tepatnya di pal matak). anambas pisah berarti sumber dana natuna akan berkurang. karena natuna bukan daerah penghasil lagi.

jangan sampai kejadian pisah memisah ini terjadi lagi sampai ke level paling bawah. maksud saya, ibukota di tarempa tentu saja tidak memuaskan masyarakat yang ada di palmatak. terus, masyarakat palmatak minta memisahkan diri dari kabupaten anambas. mereka ingin membentuk kabupaten palmatak. kabupaten anambas induk gigit jari. begitu seterusnya.... dan kita lupa untuk membangun...

Monday, June 09, 2008

mungkin saya sendiri juga maling

ini saya cuplikan puisinya Taufiq Ismail "mungkin sekali saya sendiri juga maling".
tentang korupsi di tanah air. puisinya panjang, saya ambil bagian yang menarik hati...untuk komentar dari saya, entar nanti ya...

....

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.

Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.

Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.

Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,

membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah

dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang
deretan saf jamaah.

Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?

Bagaimana menangkap maling yang prosedur
pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?

Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah.

Bagaimana ini?
Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation),

tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke
mari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,

tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,

malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

....



Tuesday, June 03, 2008

korupsi dan narkoba

korupsi dan narkoba hampir serupa.

dua-duanya nikmat.
tapi, dua-duanya merusak.
dan dua-duanya cepat sekali menular...bagaikan wabah penyakit.

ada anekdot,
dulu di jaman orde baru, korupsi terjadi di atas meja.
sekarang jaman reformasi, meja-mejanya sekalian di korupsi.
dulu hanya pejabat pusat yang korup.
sekarang pejabat daerah sampai staf2nya pun korupsi.
korupsi telah ter-desentralisasi dengan sempurna.

begitu juga narkoba.
jika dulu adalah barang mewah yang hanya dikonsumsi di kota-kota besar.
sekarang sudah menjalar sampai anak2 sekolah.
merasuk ke kampung-kampung.
mengakar ke mana-mana.

sehingga agaknya, suatu daerah bisa dikategorikan sebagai kota yang berkembang, jika narkoba sudah menjadi barang dagangan...otherwise, daerah itu adalah daerah terbelakang.

bermegah megah dalam beribadah

apakah ada korelasi positif antara masjid yang megah dengan penduduk yang taat beribadah?
pertanyaan ini menjadi semakin mendesak di kala hidup kebanyakan orang tertatih-tatih membeli bensin untuk kendaraan, membeli lauk untuk dimakan, membeli baju untuk dipakai.

kalau yang menjawab tidak ada hubungan akan menggugat: apakah tidak lebih baik uang yang berkarung2 untuk membangun masjid digunakan membantu rakyat yang tertatih-tatih itu? beri mereka bantuan kredit super lunak, gairahkan usaha ekonomi kecil dan menengah, naikkan gaji aparat sehingga tidak menerima suap, thus rakyat akan menjadi semakin sejahtera. dan mereka bisa membangun mesjid sendiri tanpa meminta-minta. tidak perlu membangun satu masjid yang bagaikan istana, tapi bangunlah masjid di mana-mana.

kalau yang mendukung akan membela: rakyat tidak lah begitu lapar, mereka masih bisa menjalani hidup seperti biasa. yang tidak kita punya adalah satu tempat beribadah yang dapat memberikan kebanggaan bagi penduduk semua. penduduk bangga, mereka akan berduyun-duyun datang meramaikan tempat yang mereka banggakan itu. masjid nan kokoh pertanda rakyat yang religius. masjid yang maha besar akan dapat menampung semua penduduk beribadah di dalamnya.

di ranai, tempat saya bertugas telah mulai juga dibangun masjid indah na megah. anggaran daerah sangatlah besar sehingga bisa mencover dua hal sekaligus. bisa membangun islamic center yang terpadu dan bisa pula menyokong ekonomi kerakyatan.

[bisa di lihat di blog teman saya eko untuk foto masjid atau ramonzha untuk rencana pembangunan Gerbang Utara ku]

tapi tetap pertanyaan ini mengusik saya: apakah masjid yang megah berpengaruh terhadap ketaatan penduduk beribadah?